Akhirnya di tahun
ke-2 Si Pemuda tetap saja melakukan
tugasnya. Tanpa kenal lelah menggarap tanah untuk berkebun dengan hati yang
benar-benar ikhlas karena Allah semata.
Walau Sang Kiyai belum pernah mengajarkan satu ilmupun kepada Si Pemuda. Keringat sudah berkawan sejaknya
dengan lama. Membasahi kaus yang menempel lekat di tubhnya. Menunjukkan betapa
ia bekerja tulus tidak setengah-setengah. Tekadnya bulat untuk mendapat ilmu agama.
Setelah tahun ke-2
berakhir dengan pencapaian 3x panen dengan usahanya sendiri. Menghadaplah Si
Pemuda kepada Sang Kiyai berharap agar Sang Kiyai memenuhi janjinya untuk
mengajarkannya ilmu agama. Namun betapa kecewanya perasaannya setelah ia
mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan dari Sang Kiyai.
“ Oh sudah 2 tahun
ya, mengerjakan tanahnya. Ya baguslah kalau begitu” tutur Kiyai.
Nggeh,
tanahnya sudah banyak tanamannya dan hasil panennya pun sangat memuaskan” tutur
pemuda.
“Iya bagus. Berarti
kamu sungguh-sungguh mengerjakannya” tutur pemuda.
“Ehm, iya, trus
ngajinya bisa dimulai mboten kiyai ?” ujar pemuda dengan kalimat yang sehalus
mungkin.
“Oh ngaji?” ya saya
ingat. Tenang, santai dulu aja, ini kan baru tahun ke-2. Dilanjutkan dulu saja
perkerjaannya satu tahun lagi . tidak masalah kan?” jawab Sang Kiyai dengan
begitu santainya.
Si Pemuda hanya
terdiam sesaat. Kemudian ia hanya menganguk sebagai tanda setuju. Namun, jauh
di dalam hatinya, sebenarnya ia merasa begitu kecewa. Ia pamit pada Sang Kiayi
kembali ke kamarnya. Ia merebahkan badannya di atas kasur dan pikirannya
menerawang jauh ia memikirkan cita-citanya untuk menuntuk ilmu dan janjinya
pada ibunya . dia tidak akan mungkin pulang jika ia belum bisa menngaji. Pasti
ibunya sangat kecewa padanya. Keesokan harinya ia kembali ke “perkerjaan”
semula. Semua itu tetap ia lakukan dengan ikhlas, begitu ikhlasnya. Setiap
cangkulan, setiap keringat yang menetes, dan hembusan nafasnya menjadi saksi
usaha dan tekad bulatnya yang kuat.
Dan tepat pada saat
itu pula di Negri parawali sedang
dirundung pilu karena salah satu dari wali abdal ke empat arah mata angin telah
dipanggil Sang Kuasa. Maka para wali pun berkumpul untuk mengadakan rapat
dengan Nabi Khidir sebagai penasehat utama . maka Nabi Khidirpun memerintahkan
untuk mencari pengganti wali yang telah meninggal tadi.
“Carilah seorang yang paling ikhlas di dunia ini sebagai pengganti dari
wali yang telah meninggal tadi” berkata Nabi Khidir.
Maka cahaya dari pemuda yang ikhlas tadi langsung memancar menembus
langit ketujuh. Maka para walipun langsung mengangkat Si Pemuda menjadi wali
Abdal. Ketika Si Pemuda mencangkul di kebun seperti biasanya. Tiba-tiba Pemuda
tersebut terkaget karena cangkulnya berdzikir menyebut asma Allah .secara
reflek ia pun mlepaskan cangkulnya dari genggamannya. Tanah, tumbuhan, dan
semua yang ada di sekitarnya berdzikir menyebut nama Allah. Dan ketika ia
memandang ke arah langit. Maka pandangannya menembus langit ketujuh hingga
Lauhul Mahfudz. Ia terdiam sesaat, perasaannya bercampur antara takjub dan
takut atas apa yang ia alami dalam hati ia bertanya: “Apa yang sebenarnya
terjadi dengan diriku ?”. Subhanallah, Ia terus dan terus memuji nama Tuhannya.
Kini si Pemuda telah resmi diangkat menjadi seorang wali oleh Allah maka tidak
aa hijab baginya segala yang ghaib Nampak jelas dan nyata baginya.
Si Pemuda bergegas berlari dan melaporkan apa yang ia alami kepada
gurunya. Namun alangkah terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ternyata rupa
gurunya bukanlah seperti manusia tapi lebih mirip seperti seekor babi. Ia
begitu shok. Namun ia tak berni berkata apa-apa.
“Ada apa? Kenapa tiba-tiba berlari memanggil saya? Apa ada masalah yang
begitu penting? Tanya Sang Kiyai.
”Hmm..tidak kiyai, tidak ada, maaf Cuma masalah kecil tidak penting”
tutur Si Pemuda sambil menunduk tidak tega melihat wajah gurunya.
“Kalau tidak ada masalah yang penting, jangan triak-teriak seperti
tiu,waktu saya sangat berharga” jawab Sang Kiyai.
“Ehm gini guru saya piker, saya sudah banyak belajar disini, 3 tahun
sudah cukup bagi saya, saya akan kembali ke desa” ujar Si Pemuda
“Baiklah jika memang itu yang kamu inginkan ya silakan, pulanglah ke
desamu.
Rupanya wajah Sang Kiyai seperti babi karena Sang Kiyai telah banyak
mengerjakan hal-hal maksiat. Walaupun, ia Alim dan menguasai ilmu agama, namun
gemerlap kehidupan dunia telah mengubah jalan pikirnya. Ia tidak sadar bahwa Si
Pemuda telah menjadi wali.
Kini akhirnya Si Pemuda kembali ke desa untuk mengajarkan ilmu agama
karena ia sudah mendapatkan ilmu Ladunni. Namun, ia selalu menghormati Kiyai
kota tai, karena berkat Kiai kota itulah secara tidak langsung telah
membantunya. Sehingga ia diangkat menjadi wali dan mendapat karomah luar biasa.
Wassalam



Post a Comment