By:
Lathifah Inten Mahardika
Mahasiswa
yang katanya sebagai agen of change, pengawal perubahan bagi lingkungan
sosial kini terancam menjadi sekadar wacana belaka. Rupa-rupanya mahasiswa di
era modern telah terlena dengan kemudahan teknologi. Hal ini semakin tampak
nyata dengan jarang terlihatnya demo atas nama mahasiswa di layar kaca, diskusi-diskusi
tentang keilmuan, hingga minimnya karya semisal buku, jurnal, sebagai output
dari hasil pembelajaran di bangku kuliah.
Sudah
menjadi rahasia umum, bila dalam mengerjakan makalah, kebanyakan mahasiswa
lebih memilih jalur praktis dan mudah. Tepat, bahkan saya sering sekali
memergoki teman saya, dengan tampang tak berdosa mengakui hal tersebut di depan
dosen. Entah kemana urat malunya, sudah putus kali ya. Hm, namun meski begitu,
kopas makalah sudah menjadi budaya di Indonesia!
Tak
sedikit pula jasa-jasa yang memperjual belikan skiripsi dengan harga yang
bervarian mulai sejuta hingga belasan juta. Penyedia jasa sudah menyetok
berbagai judul skiripsi dengan bidang yang bermacam-macam. Caranya mudah,
tinggal mengubah variabel X atau Y-nya maka akan muncul judul baru. Mahasiswa
cukup dibekali materi skripsi semalaman oleh penyedia jasa. Esoknya mahasiswa
pun siap disidang, walau entah berapa nilainya, yang ada di pikirannya mungkin
cepat-cepat lulus dan diwisuda, supaya tidak ada “tanggungan.”
Namun
jangan dikira semua ini tidak ada dampaknya! Banyak, yang rugi justru mahasiswa
yang melakukan prakter-prakter “tak murni” tersebut. Setelah diwisuda apa jadinya? Keilmuan tak seberapa,
konsep untuk melangkah tak ada, miskin idealis, tanpa prespektif, miris!
Begitulah model kebanyakan mahasiswa Indonesia, hal ini
terlihat jika kita membicarakan karya, misalnya saja jurnal ilmiah
internasional. Menurut Scopus, pusat data literatur terbesar di dunia,
Indonesia masih berada di peringkat 57 dalam penerbitan jurnal Internasional
dengan total 32.355 karya.
Hal yang sangat miris, mengingat USA dengan jumlah lulusan
jauh di bawah Indonesia bisa menghasilkan jumlah publikasi sebanyak 8.626.193
karya. Belum lagi bila membahas perihal pengangguran yang menjadi penyakit akut
masyarakat Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan pada tahun Agustus 2015 Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia mencapai 7,56 juta orang. Sekitar 600
ribu penganggur terbuka itu lulusan perguruan tinggi baik diploma maupun
sarjana.
Lantas
buat apa susah payah kuliah empat tahun bergelar sarjana bila akhirnya menjadi pengangguran
belaka? Atau yang lebih parahnya lagi menjadi beban orang tua. Jika
dihitung-hitung besaran biaya UKT kuliah pada umumnya berkisar 2-3 juta setiap
semesternya, maka 8 semester ditotal berkisar 20-30 juta, belum termasuk uang
untuk kebutuhan kuliah sehari-hari, seperti biaya nge-print makalah,
buku literatur, hingga persiapan wisuda.
Jangan
lupakan juga kebutuhan seperti baju, sepatu, dan kendaraan bila yang rumahnya
jauh atau kos-kosan bagi yang luar kota. Bisa-bisa untuk mendapatkan gelar
sarjana itu, kita menghabiskan dana 50 juta rupiah. Kasihan orang tua yang berkerja
keras membanting hanya agar anaknya bisa
meraih mimi dan tujuannya yang diinginkan.
Hmm, apa
masih perlu dipertanyakan lagi, apa tugas-tugas mahasiswa? Jika hanya ingin
mendapatkan gelar sarjana dengan sekadar memenuhi absensi dan mengerjakan tugas
seperlunya, saya pikir akan sangat rugi besar. Kita kaum terdidik, kita pula
lah yang menjadi garda terdepan dalam memajukan bangsa. Jangan hanya mewacana
tanpa aksi nyata. Ingat ijazah itu hanya selembar kertas! Tak lebih, tak
kurang.



Post a Comment