Judul :Perempuan
yang Memesan Takdir
Penulis : W Sanavero
Penerbit : Mojok
Cetakan : Februari 2018
ISBN : 978-602-1318-65-2
Membaca
buku Welda Sanavero seperti sedang berdialog pada diri sendiri tentang
macam-macam keresahan dan pengkuan dosa manusia. Pilihan bahasanya dikemas
dengan unik dan berani. Seolah ingin berkata “Tidak perlu memakai topeng dalam
bersastra, orang hanya bisa menilai sesuka mereka.”
Album
prosanya sebuah kumpulan rahasia terpendam yang berharap diketahui banyak
orang. Emosi-emosi seperti dendam, penyesalan, kecewa, harapan, kegilaan,
ketakutan mengalir bertubi-tubi dalam setiap judulnya. Jangan berharap cerita
manis, alur yang runtut atau kisah yang menggugah, karena bila demikian sama
halnya dengan pergi ke alamat yang
salah, atau menelepon kemudian salah sambung.
“Perempuan
yang Memesan Takdir” bercerita gelimang nasib perempuan yang harus menghadapi
takdirnya suka atau tidak suka, judulnya seolah memberikan kesan kontradiktif
dengan isinya. Prosa-prosanya; Kata-Kata dan Cermin, Tisu Kering yang Basah, Monolog
untuk Didengar: Pelukan Rahim, Perut dan Ketololan, Tanpa Ruang, Runduk, Dialog
Kepada Tuhan menggambarkan betapa kejamnya takdir yang digariskan pada seorang
perempuan. Takdir-takdir buruk itu tidak bisa dihindari, semakin kita berlari
menjauh maka kita justru semakin mendekati.
“Kenangan
adalah sebuah fiksi menurutnya. Seperti cerita-cerita pendek dalam sebuah mimpi…
Di belahan mana lagi dia harus pergi?
Berlari dari sebuah hal yang tidak bermateri; kenangan.”
“Janjinya
adalah kamuflase ingkar yang tertunda. Pada akhirnya rasa cintaku berujung
benci, sesederhana itu.”
Sanavero
tentu paham betul, cerita yang rumit dan “sad ending” tidak akan banyak
diterima masyarakat. Namun keanti-mainstreamnya adalah pilihan yang
realitas. Ia ingin membuka cakrawala pembacanya dan membela hak-hak perempuan
yang mengalami beban moral seperti dalam bukunya.
“Ketika
ruang-ruang perempuan diintervensi , lalu terus dimaki,aku ingin tahu hormat
semacam apa yang dilakukan seorang istri untuk suami.”
Epilog
Cak Nun di akhir buku ini tegas memperingatkan agar pembaca atau siapapun
membiarkan anak-anak (pemuda zaman ini) berkarya, memilih jalan manapun yang
dianggapnya paling benar. Jika menjustifikasi atau mendikte mana yang sekiranya
pantas atau tidak pantas sama halnya seperti menjegal karir mereka. Sebuah
pesan yang saya rasa sangat bijak, meski perbedaan sudut pandang selalu ada,
tapi tidak bisa dipaksa sama, karena semua punya masanya tersendiri.




Post a Comment