Dari kedua pihak tak ada yang ingin mengalah, justru berusaha saling menjatuhkan. Sayangnya Bara dan Ian kalah jumlah. Mereka semakin terpojok, sekitar sepuluh orang mahasiswa mengerumuni mereka berdua. Bara naik pitam, emosinya meledak-ledak, sudah cukup baginya selama empat hari menahan diri.
Pagi ini kampus begitu ramai dengan arak-arakan
mahasiswa baru lengkap dengan atribut dan baju hitam putih memadati lapangan
depan rektorat. Wajah-wajah polos terlihat penuh energi dan bercahaya. Panitia
sibuk merapikan barisan ribuan maba. Ada yang meneriaki dengan towa, selebihnya
sekadar ikut mengawal barisan hitam putih. Di antara berbagai warna elemen
kampus, beberapa mahasiswa berpakaian biru lengkap dengan kamera DSLR di
genggaman dan buku catatan kecil di kantong mereka ikut mengamati dari
kejauhan. Meski matahari terus mengawal dari pagi hari hingga sorenya, tatapan
mata dan ketajaman indera mereka tak pernah surut. Yang mengais kebenaran di
antara kerikil dan bangunan kampus, mencari fakta dari setumpuk birokrasi dan
jabatan. Para Jurnalis kampus siap mengawal tanpa perlu dibayar untuk mencari
berita murni idealis tanpa iming-iming imbalan. Prespektif kebenaran tak pernah
surut, langkah kaki tak bergeming.
Terhitung tiga hari, kegitan ini akan
berakhir besok. Selama itu pula Ian dan
Bara, dua karib yang berkecimpung di dunia pers mahasiswa sudah menghimpun
berbagai data dari hasil pengamatan, investigasi, wawancara beberapa
narasumber. Hingga tahap terahir klarifikasi ke pemangku jabatan, sebelum akhirnya
berita dibuat dan disebarkan untuk berbagai kalangan, dari rakyat jelata hingga
pemegang kekuasan.
Matahari tegak lurus tepat di ubun-ubung
kepala, menandakan hari yang semakin terik. Langkah kaki memberat, baju birunya
berlumur keringat, entah sudah berapa tempat ia datangi hari ini. Mahasiswa
jurusan Ilmu Komunikasi ini berjalan gontai ke ruang LPM, tak ada sambutan yang
meriah. Hanya ada Ian mencari sedikit kesegaran di depan kipas angin. Jangan
ditanya panasnya kota Surabaya sekarang ini, meski walikota sudah bersusah
payah mencipakan ikon “hijau”, Surabaya masih tetap panas. Tanpa banyak bicara Bara
terduduk lesu menyeruput sisa es di samping Ian.
“Bar, gimana beritamu?” Ian memulai
percakapan.
“Ah, kacau Ian, gak satupun
panitia mau bicara! Jangankan mengorek informasi yang ada, Hp dan kameraku
nyaris disita,”Bara meloncat seru penuh kecewa.
“Lho, kok bisa? Apa sudah kau
jelaskan tentang UU Pers? Harusnya mereka tahu dilarang menghalangi wartawan!”
Ian tak percaya, bahkan ID card yang selalu mereka kalungkan di leher ketika
bertugas sudah berisi lengkap Undang-undang Pers.
“Ah, percuma mereka masih keras
kepala, sok eksklusif, merasa dirinya orang paling penting sedunia. Nyatanya
hanya jabatan kampus, cih basi!”
Sebenarnya tanpa perlu ditanya, semua
jawaban sudah tergambar jelas di raut wajah Bara. Namun, sebagai salah satu
rekan seperjuangan di dunia pers, rasanya Ian juga tak tega. Meski nasibnya
juga tak sebegitu dikatakan “baik” dari pada Bara. Ian hanya sedikit mujur
karena temannya yang kebetulan juga panitia mau berbaik hati untuk diwawancarai
meski terkesan berbelit. Namun beritanya sudah hampir sempurna, sedikit olesan
maka siap dicetak dan dikonsumsi pembaca. Kawan-kawan lainnya sudah kembali ke
kos, berita mereka sudah paripurna. Hanya tinggal Bara seorang, yang ketiban “apes”
karena fakultas dimana Ia mencari berita bisa dibilang kacau.
***
Bara mengambil nafas panjang,
penyelenggaraan masa orientasi mahasiswa baru yang kini beralih nama menjadi
PKK-MB melahirkan berbagai permasalahan baru: atribut yang tidak sesuai dengan
SK Rektor, makanan yang belum didistribusikan kepada maba, hingga kekerasan dan
bentak-bentakanyang dilakukan panitia . Insting para jurnalis mulai mencium
sesuatu yang ganjil sedang terjadi di lingkungan kampus. Seminggu ini
mati-matian mencari narasumber dan data, Bara benar-benar kelabakan para
narasumbernya bungkam.
Menatap layar notebook, Bara
memasukan data sekenanya, rekaman hasil wawancara pun diputar berulang kali,
didengarkan dengan seksama lewat headset. Ia mulai menyusun kata menjadi
serangkaian kalimat yang rutut dan mudah dibaca. Berulang kali paragraf demi
paragraf dicek ulang, khawatir bila ada kesalahan dalan ejaan atau kalimat yang
tidak sesuai dengan KBBI. Ia mengenggelengkan kepala sambil bergumam,
“Sial, kalau saja mereka sedikit mau
bicara, dengan data yang segini berita ini gak bisa dibilang layak.”
Bara mulai merancu, komat-kamit
sendiri dengan gerutuannya. Sudah mafhum, berhari-hari ini lelaki jangkung ini
berulang kali keluar-masuk gedung rektorat dan Dema universitas. Namun, hingga
sekarang tak ada hasil yang pasti.
Bara nyaris menyerah. Kalau tidak
karena semangat dan kecintaanya dengan dunia pers dan kepenulisan. Mungkin
sudah lama Ia mengundurkan diri dari LPM.
Keesokan harinya, Bara tetap datang
dan meliput. Ian memutuskan untuk ikut menemani Bara mencari berita. Hari
terakhir Ospek, hanya hari ini kesempatan bagi Bara untuk mendapatkan berita.
Ia hanya ingin menanyakan beberapa penyimpangan yang selama ini jelas-jelas
nampak di depan matanya. Klarifikasi kebenarannya hanya itu yang ia butuhkan. Karena
ia tidak bisa mengekesampingkan unsur keseimbangan dalam berita atau yang
disebut cover both side.
Bara dan Ian tetap nekat dan langsung
menuju TKP. Meski di sana banyak mata mengarah tajam seolah mencari-cari celah,
Bara tak gentar sedikit pun. Tepat ketika Bara membuka pintu utama, salah
seorang panitia tiba-tiba memblokade jalan.
“Mas, dari mana? Ada keperluan apa
dengan kami?” Salah seorang panitia langsung melontarkan pertanyaan tanpa ba-bi-bu.
“Kami dari Persma Mas, mau wawancara
ke ketua panitia bisa?” Jawab Bara.
“Maaf mas, bisa tunjukkan surat
penugasan dan kartunya?” panitia tersebut balik bertanya.
“Tenang Mas, selalu dibawa kok.”
Bara menyodorkan selembar surat setengah lecek dan kartu yang terkalung di
lehernya pada panitia.
Setelah mengecek dan mengembalikan
identitas persnya kepada Bara, panitia Ospek tidak langsung memberikan jalan
pada mereka. Malahan beberapa panitia ikut memblokade mereka.
“Lho, ada apa mas? Apa salah
kami?” Bara bertanya setengah memaksa. “Kartu dan surat sudah kami bawa kan,
kurang apa Mas?” Tanya Bara protes.
“Maaf tapi pers dilarang masuk forum,
jadi kalian tidak boleh melangkah lebih dari ini!” Ungkap panitia A tak mau
kalah.
“Lho, maksudnya apa ya?”
“Kami tahu pers ada undang-undangnya,
tapi kami juga punya peraturan sendiri.” Salah seorang panitia lainnya
berbicara dengan nada mengancam.
“Gak bisa gitu Mas,
kami juga punya kepentingan di sini!” Sanggah Bara. Keadaan berubah menjadi
semakin tegang. Dari kedua pihak tak ada yang ingin mengalah, justru berusaha
saling menjatuhkan. Sayangnya Bara dan Ian kalah jumlah. Mereka semakin
terpojok, sekitar sepuluh orang mahasiswa mengerumuni mereka berdua. Bara naik
pitam, emosinya meledak-ledak, sudah cukup baginya selama empat hari menahan
diri.
“Kalian bisa menuntut melalui hukum,
Mas.” Bara tak mau kalah mengancam.
Nyaris terjadi baku hantam, percekcokan semakin sengit.
Masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda untuk memenangkan debat ini.
Buntu. Tak ada satupun yang mau mengalah. Semakin banyak mata yang menatap pada
kedua mahasiswa pers itu. Dua melawan sepuluh tentu jumlah yang tak sebanding.
Tapi Bara sudah terlanjur larut di dalamnya, sangsi bagi harga dirinya untuk
mundur. Ian sebaliknya, Ia tidak mau ada pertumpahan disini. Merasa terancam,
Ian berusaha melunak, antisipasi demi keselamatan mereka.
“Hm, santai Mas, kami cuma wawancara
sebentar mas ke salah satu panitianya, hanya untuk klarisifikasi.” Ian
berbicara sesopan mungkin. Perlahan panitia juga bisa menenangkan diri. Karena
jelas mereka tahu, jika perdebatan terjadi justru merekalah yang rugi. Nama
baik mereka akan ikut tercemar, yang mereka hadapi tak lain adalah media kampus
yang memiliki jaringan ke seluruh media di Surabaya.
“Oh gitu ya Mas, tapi kami juga punya
peraturan sendiri Mas, gak bisa langsung gitu aja.” Panitia tetap kekeh
dengan pendiriannya. Sepeti ada sesuatu yang ditutupi.
“Cuma bentar kok Mas,” Ian
memohon, merendahkan suaranya.
Panitia yang pertama kali menemui
mereka kembali dengan membawa selembar surat yang entah dari mana. Berbisik
kepada panitia yang mendesak sedari tadi. Raut wajahnya yang tadinya garang
seolah ingin memakan kami perlahan melunak.
“Kalau tidak percaya, silahkan baca
surat ini!” Panitia B menyodorkan selembar surat dengan tulisan rapi lengkap
dengan tanda tangan dan stempel resmi. Bara dan Ian terbelalak tidak percaya,
Astaga tidak mungkin batin mereka.
“Itu surat langsung dari rektor bahwa
pers dilarang untuk masuk forum.” Ungkap panitia tersebut dengan senyum
kemenangan. Bara dan Ian menekuk muka kesal tak karuan. Dengan gontai meninggalkan
forum kembali ke beskem. Surat itu menutup hari terburuk bagi mereka. Namun tanpa
sepengetahuan panitia, Ian diam-diam berhasil menangkap surat yang katanya dari
Rektor lewat kamera ponselnya.
***
Pedih, surat yang kemaren mereka
lihat bagai sengatan listrik, dari mata menjalar ke sekujur tubuh. Bara tak
berkata-kata, ia membatu, raut wajahnya pucat seolah hilang cahaya semangat
yang selalu berapi-api setiap liputan. Ian mengecek kembali surat itu dari
gambar yang berhasil ia tangkap. Rasanya ada yang ganjal dari surat itu.
“Bara, coba lihat deh, masa iya SK
dari rektor kayak gini bentuknya? Perhatikan baik-baik stempel yang
tertera di sini bukan atas nama lembaga kampus kita, tapi ini stempel panitia! Terus
tanda tangan Pak Rektor perasaaan gak kayak gini deh, coba cek lagi Bar!” Seru Ian.
“Hm, iya kamu bener Ian, sepertinya surat
ini buka dari Rektor, ini pasti buatannya mereka aja, Wah ini pemalsuan!!,
imbuh Bara.
“Kita harus mengecek langsung ke
rektor Bar, untuk memastikan kebenarannya,” ungkap Ian penuh semangat.
Bara tak bergeming, rasanya
kerja-kerasnya selama empat hari ini tidak akan menguap percuma. Ian menggeret
sobat karibnya itu ke kantor rektor lantai delapan. Setelah dikonfirmasi benar
adanya, bahwa surat itu palsu.
“Kami tak menginstruksikan hal
seperti itu, jadi jelas itu bukan dari kami. Jangan salah paham dulu. Persma
sebagai media berhak untuk meliput segala permasalahan di dalam kampus.”
Ungkapan langsung dari Rektor bagai oase di tengah gurun pasir, membawa
kesegaran dan harapan baru bagi kedua jurnalis muda tersebut.
Setelah mengetahui kebenaran
tersebut, Bara bergegas menggodok berita bersama redaksi, lusanya berita sudah
dicetak dan siap disebar. Headline news di halama utama “Surat Palsu dari
Rektor” memjadi sorotan utama dan berita panas di seluruh kampus. Banyak orang yang
memuji, namun tidak sedikit yang memberikan kritik tajam kepada pers kampus. Namun
satu yang pasti ini adalah kemenangan tidak hanya bagi mereka berdua, tapi juga
pers di kampusnya. Cukup dengan selembar kertas ini mereka kena batunya, tawa
Bara dan Ian menembang.
By: Lathifah Inten Mahardika




Post a Comment