Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa
Gus Dur mungkin telah menghembuskan nafasnya 9 tahun lalu. Namun pemikiran,
ideologi dan kontribusinya tetap abadi bagi pengikutnya, yaitu Gusdurian.
Sebutan bagi para murid, pengagum dan penerus pemikiran dan perjuangan Gus Dur.
Dengan adanya “Jaringan Gusdurian,” puluhan ribu gusdurian kini sudah menyebar
tidak hanya di seluruh pelosok nusantara namun juga sampai di luar negeri. Hingga
kini terhitung banyaknya Jaringan Gusdurian sejumlah; 28 di Jawa Timur, 20 di
Jawa Tengah, 14 di Jawa Barat, 23 di luar Jawa dan 3 di luar negeri (yatu
Malaysia, Jeddah, dan Saudi) dan masih akan bertambah lagi. Ungkap Mukhibullah,
selaku perwakilan Sekjen Gusdurian.
Untuk mencetak
para Gus Dur yang baru, Jaringan Gusdurian Surabaya mengadakan KPG (Kelas
Pemikiran Gus Dur) angkatan kedua di Gedung Yayasan LKD-Keuskupan
Surabaya(09-11/03). Sebanyak 30 peserta
terpilih dari 53 yang mendaftar. Meski hanya 23 peserta yang bisa mengikuti KPG
dari awal hingga akhir, tidak mengurangi sedikitpun kehidmatan acara tersebut.
Selain difasilitasi tempat dan konsumsi selama tiga hari oleh panitia. Peserta
juga dibekali dengan modul yang berisi 14 sub tulisan dari berbagai sumber
tentang Gus Dur dan kiprahnya.
Selama tiga
hari dua malam, para peserta ditempa enam materi yang semakin memperkuat ke-gusdurian
mereka, di antaranya yaitu; Biografi Intelekktual Gus Dur, Gus Dur dan Gagasan
Keislamannya, Gus Dur dan Gagasan Demokrasi, Gus Dur dan Gagasan Gerakan Sosial,
Gus Dur dan Gagasan Kebudayaannya, dan terakhir Gerakan Jaringan Gusdurian. Setelahnya
pun peserta diperkuat pemahamannya dengan review atau pengayaan materi serta
diskusi-presentasi tiap kelompok.
Di antara
materi yang menarik adalah 9 nilai Gus Dur. Di antaranya yaitu, ketauhidan,
kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, persaudaraan, kesederahanaan,
kesatriaan, dan kearifan lokal. “Nilai-nilai terwujud setelah didadakannya
simposium yang dihadiri 100 orang yang merupakan teman, saudara, dan
orang-orang yang mengenal Gus Dur untuk merumuskan maksud dan sari pati dari
setiap tindaknya.” Ungkap Yuni, pemateri pertama. Ia juga menambahkan
pentingnya bersikap netral. Kenetralan bukan hanya berada di tengah, namun
keberpihakan pada kaum yang tertindas.
Setelah
mendalami semua materi ke-gusdurian, peserta tidak akan langsung mampu
bertindak layaknya Gus Dur. Banyak Gusdurian sendiri yang mengaku berat menjadi
Gus Dur, “Saya tidak sanggup menjadi Gus Dur, berat. Saya saja yang membela
LGBT, dihina habis-habisan.” Ungkap Aan Anshori, pemati keempat. Menurutnya
cara pandang Gus Dur bagaimana mampu untuk melihat segala sesuatu dengan
nurani. Mengesampikan nilai-nilai partikular berupa agama dan ras dan lebih
mengutamakan nilai-nilai universal yaitu keadilan dan kesetaraan. Hal ini pun
menurutnya sejalan dengan hukum Islam yaitu al-adalah, al-musawwa, dan
alhurriyah.
Pendeta Simon
dalam pidato singatnya kepada peserta menerangkan, “Beberapa peran Gus Dur
yang hebat, Gus Dur membubarkan Menteri Penerangan, mencanangkan agar Indonesia
bergabung dengan negara China dan India sehingga kita tidak perlu negara lain,”
ungkap Simon Filantropa. Gus Dur menurutnya juga berharap agar Indonesia tidak menjadi bangsa
“apa yang dibicarakan berbeda dengan apa yang dikerjakan.”
Materi
terakhir yaitu mengenal “Jaringan Gusdurian,” jaringan yang gigih berupaya
meggerakkan tradisi, meneguhkan Indonesia. “Sebenarnya tidak ada pendaftaran
untuk menjadi Gusdurian, banyak yang inbox, ‘Kapan dibuka pendaftaran?’
Cukup mengikuti acara-acara yang diadakan Gusdurian dan mengkaji pemikirannya,
maka anda secara tidak langsung sudah menjadi Gusdurian.” Jelas Mukhib di
akhir sesi. Sebelum selesainya acara, peserta diberikan kesempatan untuk
mengukapkan kesan dan pesannya. Mereka mengaku puas dengan adanya acara ini, “Terima
kasih kepada panitia, saya sudah diberikan kesempatan untuk mengikuti acara
ini, mungkin saya tidak bisa mengikuti kegiatan setelahnya karena rumah saya
jauh(Banjarmasin, Red). Tapi saya sangat bersyukur,” jelas Nur
Qomariyah, salah satu peserta di akhir acara. (faf)



Nice. Bagus tulisannya. Semoga istiqamah
ReplyDeleteMantap keren. Gus Dur selalu di hati
ReplyDeleteMasyaAllah, keren nih Fafa ikutan kelas Gusdurian. Keep spirit up high^^
ReplyDelete